Hari
ini aku bertemu seorang penjual nasi goreng, usianya sekitar 50 tahun, aku
tidak tau namanya, dia bercerita tentang TUNTUTAN, listrik, jalan, mobil,
angkutan berat, sekema pemerintah, korupsi, kerja keras, dll.
Dia
adalah mantan seorang guru honor yang hanya lulusan Sederajat SMA yang sempat
tertindas harapan kosong menjadi PNS, Sekolahnya di surabaya. pekerjaannya
sambilan, jual nasi goreng dan pekerja loundri pakaian (sekarang).
Dia
bercerita tentang pengalaman dan kesederhanaan, dia (saat muda) adalah sopir mobil truk angkutan batubara lintas panjang
antara lampung dan lahat. Pecah ban, sendiri, ngantuk, capek, preman,korupsi,
jalan rusak, PU, semua di bahas dalam katagori TUNTUTAN. Ya tuntutan yang
menjadi kesederhanaan baginya.
Alasan
dia pindah profesi dimana saat dokter memfonis mengidap penyakit DIABETES, dia
tidak tau benar atau salah fonis tersebut, nyatanya dia masih bekerja hingga
jam 08.12-23.30 untuk sebuah TUNTUTAN.
Aku
menghabiskan 25 menit mengobrol dengannya dan 5 menit untuk makan nasi goreng
buatan nya, dalam waktu singkat itu dia sempat memberikan saran kepadaku, bahwa
“perjalanan hidup seseorang harus tetap berjalan, waktu adalah hal yang utama, kehabisan
waktu akan membuatmu berhenti dan tertahan oleh sebuah TUNTUTAN”.